Perias Jenazah hingga Penggali Kubur

image2.tempointeraktif.com10Kotak make-up warna hitam itu bagai nyawa kedua bagi Wahyuningsih. Pada kotak peralatan rias bergambar artis seksi Hollywood, Marilyn Monroe, itulah perempuan berusia 40 tahun ini sangat menggantungkan hidupnya. Isi kotak itu lumayan lengkap: dari bedak, pelembap, lipstik, foundation atau alas bedak, eye shadow atau pemulas kelopak mata, hingga blush-on atau pewarna pipi. Mereknya pun beragam, ada yang keluaran lokal, ada pula yang impor. Perlengkapan make up itu adalah “peralatan tempur” Wahyuningsih, yang berprofesi sebagai perias jenazah di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat Gatot Soebroto (RSPAD), Jakarta Pusat. “Peralatan make-up jenazah sama seperti kita yang masih hidup, kok,” kata Wahyuningsih di Rumah Duka RSPAD, Jumat siang lalu. “Enggak cuma kita, jenazah juga mesti tampil cantik.” Dan merias jenazah itu hampir sama dengan mendandani orang hidup. Yang membedakan, tutur Wahyuningsih, penggunaan bedak dan foundation-nya. “Saya biasanya pakai bedak dan foundation yang dipakai pengantin saat resepsi. Soalnya, mudah menempel di kulit dan awet,” ujarnya. “Waktu merias jenazah pun lebih lama, bisa 1-2 jam, tergantung kondisi jasadnya.” Ibu dua anak ini sudah sekitar delapan tahun menggeluti profesinya. Menurut dia, merias jenazah itu susah-susah gampang. Susahnya ketika dia kebetulan mendapat jatah merias jenazah yang meninggal karena kecelakaan, sakit ginjal, atau sakit jantung, yang butuh perlakuan khusus. Sepanjang menjalankan tugasnya, Wahyuningsih tak pernah merasa takut, apalagi jijik. Suasana kamar mayat dan bau formalin, yang bagi sebagian orang mencekam, bagi dia justru biasa saja, meski dia harus melakoni tugasnya malam hari dan sendirian. “Alhamdulillah, enggak pernah ada kejadian aneh selama ini. Jenazah itu baik semua kok, selama kita baik dan ikhlas memperlakukannya,” tuturnya. Yang pasti, Wahyuningsih senang karena bisa membantu keluarga yang tengah berduka. Yang merisaukan dia justru kedua putranya, yang kerap memprotes kesibukannya. Maklum, saking padatnya jadwal, ia hanya sepekan sekali pulang ke rumah. “Tapi, ya, orang mati siapa yang tahu waktunya? Kadang sudah di rumah pun masih dapat panggilan merias.” Vera, 43 tahun, yang berprofesi seperti Wahyuningsih, juga tak merasa risi meski hampir setiap hari “bergaul” dengan jenazah. Pada masa-masa awal, perempuan yang sudah sekitar 27 tahun menjalani profesinya itu sempat deg-degan juga ketika menyentuh dan merias wajah jenazah. Kini, dalam sehari, Vera, yang bekerja untuk sejumlah rumah duka, bisa merias hingga enam jenazah. Dia mesti pontang-panting dari satu rumah duka ke rumah duka lain, hingga terkadang baru pulang ke rumah pada dinihari. Itu pun dengan catatan tak ada order mendadak yang mampir di telepon selulernya. Vera juga senang dan bangga akan profesinya. “Ketika melihat jenazah itu tampak segar, cantik, atau ganteng setelah dirias, rasanya saya bangga. Apalagi jika keluarga almarhum senang dengan hasil kerja saya,” ujarnya. Pekerjaan yang digeluti Wahyuningsih dan Vera adalah salah satu profesi yang berhubungan dengan kematian. Selain perias jenazah, masih banyak profesi lain yang bersentuhan dengan orang meninggal. Contohnya tukang kremasi, seperti yang dilakoni Mardan. Rabu siang lalu, saat Tempo menemui pria 55 tahun itu di kompleks Krematorium Cilincing, Jakarta Utara, dia tengah sibuk memasukkan sejumlah kerangka jenazah yang sudah berusia lebih dari satu tahun itu ke dalam mesin oven raksasa setinggi lebih dari 2 meter. Setelah memastikan seluruh kerangka masuk, Mardan mulai menyalakan mesin yang membutuhkan 25-30 liter solar sekali beroperasi tersebut. Beberapa menit berselang, dua lampu yang ada di ujung atas kanan dan kiri mesin mulai menyala merah, tanda proses pembakaran sudah dimulai. Proses membakar kerangka jenazah menggunakan oven memakan waktu 1,5 jam, atau jauh lebih cepat dibanding cara tradisional yang bisa 4,5 jam. Setelah proses pembakaran selesai, kerangka yang sudah lunak dihancurkan hingga menjadi abu, dan siap dilarung ke laut. “Saya hanya bertanggung jawab hingga proses pengabuan. Kalau proses pelarungannya ke laut, itu urusan keluarganya almarhum,” kata Mardan. Pria yang telah menggeluti pekerjaannya sejak 1992 itu dulu sempat tegang dan merinding ketika harus membakar jenazah korban kecelakaan yang kondisi fisiknya mengenaskan. Beberapa kali Mardan pun mesti menenangkan diri karena tak nyaman berdekatan dengan jenazah. “Itu kan dulu. Sekarang saya lebih santai bergaul sama mayat dan tulang. Dipikir-pikir, semua orang toh akan mati. Jadi, apa yang harus ditakuti?” Seperti halnya Mardan, Mashudi juga merasa santai meski hampir setiap hari berhubungan dengan jenazah. Pria 55 tahun itu salah seorang yang bertugas menjaga kamar mayat dan memandikan jenazah di Rumah Sakit Polri Said Sukanto, Kramatjati, Jakarta Timur. Pekerjaan itu telah menjadi bagian dari hidupnya selama 30 tahun. Di dalam kamar mayat tempat Mashudi melewati hari-harinya, terdapat kereta dorong mayat dan peti mati yang tersusun rapi. Kamar jenazah itu dibagi dua: tempat memandikan dan bagian forensik. Di bagian forensik itu terdapat tempat penyimpanan mayat dan ruangan terbuka seluas 4×4 meter. Menurut Mashudi, ruangan itu juga bisa dijadikan tempat pemandian.”Tidak seram, kan?” katanya, tersenyum. Menurut Mashudi, yang sangat berkesan adalah ketika dia memandikan jenazah dua teroris ternama, Dr Azahari dan Noordin M. Top, beberapa tahun yang lalu. Awalnya, ia tidak percaya menangani jenazah mereka, yang selama ini hanya ia lihat di layar kaca. “Jenazahnya dingin dan sudah membusuk,” ujarnya. Pengalaman lain yang paling diingatnya adalah saat memandikan jenazah korban jatuhnya pesawat Sukhoi Superjet 100 di Gunung Salak, Bogor, Jawa Barat, tahun lalu. Saat itu ia terkejut karena harus menyusun bagian-bagian tubuh korban yang terpisah. Seperti main puzzle, ia pun menyusun kaki, tangan, dan leher agar sesuai letaknya sebelum dimandikan. Menurut Mashudi, datangnya mayat di Rumah Sakit Polri tak pernah kenal waktu. Meski ia sudah lelap tertidur di tengah malam, kadang ada saja petugas datang membawa mayat anonim. “Kebanyakan yang matinya karena kecelakaan, seperti dilindas truk atau kereta api.”

*****Selain yang berhubungan langsung dengan jenazah, terdapat profesi di sekitar kematian yang tak berurusan langsung dengan mayat. Ambil contoh profesi yang dilakoni Musa: penggali kubur. Pria 55 tahun itu sudah sejak 1978 menjalani profesinya di Taman Pemakaman Umum Jeruk Purut, Jakarta Selatan. “Dulu, masih tanah kosong dan rawa,” katanya. Musa, yang hidup sebatang kara, tinggal di ruangan kecil di belakang makam. Luasnya tidak jauh berbeda dengan kuburan yang biasa ia gali untuk satu jenazah. Di situ hanya terdapat televisi 14 inci, pengeras suara, dan tempat tidur. Di dindingnya ada poster penyanyi lawas pujaannya: Nafa Urbach. Musa mewarisi pekerjaan itu dari ayahnya. Boleh dibilang, pekerjaan menggali kubur dan memotong rumput sudah menjadi bagian dari tarikan napasnya. Sepanjang sekitar 40 tahun, sudah tak terhitung jenazah yang ia makamkan. Satu jenazah yang paling diingatnya adalah bocah 8 tahun bernama Arie Hanggara, yang meninggal akibat penyiksaan orang tuanya. Pada 1980-an, kisah Arie menjadi buah bibir di masyarakat hingga akhirnya difilmkan. “Saya ikut menurunkan jenazah Arie ke liang lahad, saya ikut menangis,” ujarnya. Hanya, tutur Musa, belakangan ini pesanan datang tak pasti. Tiga hari belum tentu ada, karena pesaing dia–sesama penggali kubur–semakin banyak. Rata-rata, dalam sebulan, ia mendapat Rp 250 ribu. Jika tidak ada job menggali kubur, dia rutin membersihkan makam. Profesi lain yang tak bersentuhan langsung dengan jenazah adalah pembuat batu nisan, seperti yang dilakoni Mohammad Rodjaih. Rabu sore lalu, saat Tempo menemuinya, Rodjaih yang berkaus oblong dan bercelana abu-abu masih setia memahat. Di bawah pepohonan rindang di pinggir lapangan parkir pemakaman Menteng Pulo, Jakarta Selatan, laki-laki berumur 57 tahun itu terus memukul-mukulkan pahatnya. “Ini sudah mau selesai,” katanya. Rodjaih, atau bisa dikenal dengan sebutan Pak Meri, sudah memahat batu nisan sejak 42 tahun silam. Makam Menteng Pulo ini memang sudah menjadi taman bermain bagi Rodjaih kecil. “Sejak lahir, saya tinggal di sini,” ujar pria yang belajar memahat dari tukang pembuat nisan di pemakaman itu. “Kantor” Rodjaih di pinggir makam Menteng Pulo lebih menyerupai sebuah bedeng. Di sana terdapat sebuah meja dengan alas marmer hijau, mesin telepon, dan faksimile. Sejak sekitar lima tahun lalu, dia sudah mulai menerima pesanan melalui e-mail. “Anak-anak saya yang buka e-mail,” katanya. Dari “kantor” sederhana itu, batu nisan karya Rodjaih tak hanya untuk makam-makan di Menteng Pulo, tapi sudah terpasang di banyak kuburan di Jakarta. Bahkan pahatan nisannya sudah sampai ke Medan dan Papua. Dari usahanya memahat batu nisan ini, Rodjaih bisa menyekolahkan kelima anaknya hingga ke perguruan tinggi. Menurut Rodjaih, tarif pembuatan nisan bergantung pada jumlah huruf yang harus ia pahat, dan juga ukuran batu granitnya. Nisan ukuran 60 x 50 sentimeter ia patok dengan harga Rp 1,8 juta. Dengan jumlah huruf standar, nama dan tempat dimakamkan. Nisan yang paling murah Rp 300 ribu. Meski orang mati tak mengenal musim, pembuatan nisan mengenal musim paceklik, yakni Januari-Februari. Menurut Rodjaih, tidak semua keluarga bisa langsung membuat nisan. “Ada yang harus menunggu rezeki dulu, baru memesan nisan,” ujarnya. Selain pemahat batu nisan, profesi yang tak langsung berurusan dengan mayat adalah pembuat peti jenazah. Salah seorang pembuat peti jenazah yang sangat senior adalah Hajjah Kartini. “Saya sudah menjalankan pembuatan peti jenazah ini sejak 1980,” kata janda berusia 77 tahun ini di rumahnya di Tanah Tinggi, Jakarta Pusat, Kamis siang lalu. Awalnya, pada 1970-an dia dan suaminya menjalankan usaha pembuatan gerobak dagang, seperti gerobak bakso. Lalu, pada 1980, Yayasan Dana Kami, sebuah yayasan rumah duka di Senen, Jakarta Pusat, menawari mereka untuk membuat salib. “Mereka memesan 50 salib per bulan,” ujarnya. Setelah pesanan salib berjalan lancar, Dana Kami kemudian menawarinya untuk membuat peti jenazah. Kartini lupa kapan persisnya dia dan suaminya mulai fokus sepenuhnya pada pembuatan peti jenazah. Yang jelas, pada 1986, suaminya, Syamsuddin, meninggal dan bisnis peti jenazahnya pun sempat terhenti. “Setahun kemudian, saya merintis kembali,” tuturnya. Pembuatan peti dilakukan di rumahnya yang terletak di dekat pinggiran rel, hanya beberapa meter dari palang pintu kereta Stasiun Pasar Senen. Saat itu, tak banyak yang menjalankan usaha pembuatan peti jenazah. Kartini mengatakan hampir semua rumah sakit di Jakarta mengenal Yayasan Lestari, nama usaha pembuatan peti jenazahnya. Yayasan Lestari berkembang pesat. Pada 2003, Kartini memutuskan membeli sebidang tanah di belakang rumahnya. Di atas lahan seluas sekitar 300 meter persegi itu, dia membangun rumah bertingkat tiga berukuran 10 x 22 meter. Dua tingkat di atas ia bisniskan untuk tempat kos. Sedangkan dia dan empat anaknya yang sudah berkeluarga tinggal di lantai satu. Pembuatan peti jenazah dilakukan di bagian depan rumah. “Yah ini bangunnya pelan-pelan. Laku satu peti, beli semen,” ujarnya. Kartini bisa menyelesaikan pesanan peti jenazah hingga 50 unit peti per bulan. Ukurannya bervariasi, dari yang panjangnya 80 sentimeter untuk bayi, 1 meter untuk anak-anak, hingga yang 2 meter untuk orang dewasa. Harga jual peti jenazah bermacam-macam. Yang paling murah peti kelas III, yang dijual Rp 2,6 juta, lalu kelas II dihargai Rp 3 juta, dan peti kelas I Rp 3,2 juta. Yang paling mahal, peti dengan kayu dari Jepara, yang dijual dengan harga Rp 5,5 juta. “Itu petinya putih, ukir, dan duco,” katanya. Bertahun-tahun menjalankan bisnis peti jenazah, Kartini tak pernah punya perasaan yang aneh-aneh. Tak jarang dia tiduran di kursi yang di sebelahnya ada peti mati. “Pekerja saya juga kadang malah tiduran di petinya,” katanya. Kartini kini mempekerjakan empat orang. Meski peti jenazah menumpuk di depan rumahnya, toh 24 kamar kosnya selalu penuh. Satu hal yang selalu diingat Kartini, peti jenazah dua mantan presiden, Soeharto dan Abdurrahman Wahid, berasal dari yayasannya. “Garnisun yang pesan ke sini. Jadi, saya tahu petinya untuk siapa,” katanya. Bahkan tanggal kematian dua presiden itu dia catat dalam sebuah kotak yang tersimpan di lemari dekat meja kerjanya. Begitulah. Profesi lain yang juga ada di sekitar orang meninggal adalah pemelihara makam dan penyedia jasa doa. Yang disebut terakhir, kehadirannya mudah ditemukan di pemakaman. Mereka biasanya bersarung atau bercelana panjang, berpeci, serta berbaju koko. Mereka siap membantu para pelayat untuk memimpin dan mengirim doa untuk sang ahli kubur. “Mungkin keluarganya tidak lancar membaca doanya, atau mungkin juga menurut mereka semakin banyak yang berdoa maka semakin bagus,” kata Suparman, penyedia jasa doa di Taman Pemakaman Umum (TPU) Jeruk Purut, Jakarta Selatan. Biasanya, tutur Suparman, yang dibaca adalah Surat Yasin, Al Fatihah, Ayat Kursi, doa dan zikir, dengan menyertakan nama jenazah di makam tersebut. “Disebut namanya supaya doanya khusus untuk almarhum.” Menurut Suparman, di TPU Jeruk Purut terdapat sepuluh orang penyedia jasa doa. “Kita asalnya dari satu kampung, di Karawang, Jawa Barat,” ujarnya. Selain pengajian di masjid dan rumah, mereka tak mengenyam pendidikan khusus keagamaan seperti pesantren. Suparman mulai bekerja di pemakaman ini sejak 1996. Sebelumnya, dia bekerja sebagai penarik becak. Setelah becak dihapus, dia kemudian diajak pamannya, yang telah lebih dulu bekerja di pemakaman ini. “Karena kerjanya santai, tidak terlalu berat untuk badan saya,” kata pria 54 tahun ini. Sehari-hari dia menunggu para pelayat yang hendak memakai jasanya. Menurut Suparman, tidak ada perebutan pelayat di antara mereka. Siapa yang didekati lebih dulu oleh pelayat, itulah “klien” mereka. “Mereka juga kadang-kadang memanggil lebih dari satu pembaca doa. Makin banyak yang berdoa, kan makin bagus,” katanya. Bayaran yang diperoleh Suparman bervariasi, dari Rp 5.000 sampai Rp 25 ribu. “Seikhlasnya peziarah saja.” Seperti para pemelihara makam, mereka yang berprofesi sebagai pembaca doa berada di luar struktur Dinas Pemakaman DKI Jakarta. Karena itu, mereka tidak mendapatkan tunjangan apa pun dari dinas , selain bingkisan bahan pokok yang dibagikan tiap Lebaran. “Tapi enggak apa-apa, kan berdoa sekalian ibadah,” ujar Suparman. Dengan penghasilan tak seberapa itu, Suparman bersama Kardi, keponakannya yang juga berprofesi sebagai pembaca doa, memilih tinggal di musala yang terletak di Pemakaman Jeruk Purut. Meski harus tinggal di kuburan, dia mengaku tidak takut. “Dari awal, kita jangan mikir yang aneh-aneh,” katanya. Reputasi hantu Pastor Kepala Buntung di Pemakaman Jeruk Purut justru memberi kesibukan lain bagi Suparman dan Kardi. “Kalau malam, di sini kadang ada anak-anak yang minta diantar uji nyali,” ujar Kardi, yang diiyakan Suparman. ISMA SAVITRI | HERU TRIYONO | IQBAL MUHTAROM | RATNANING ASIH

This entry was posted in News. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s