Antara Banda dan Manhattan

image2.tempointeraktif.com9Run dan Manhattan. Dua pulau yang dipisahkan jarak ribuan kilometer itu disatukan oleh ikatan sejarah. Run, sebuah pulau kecil penghasil pala di Kepulauan Banda, Maluku, pernah diperebutkan dua negara, Inggris dan Belanda. Lewat Perjanjian Breda pada 1667, pertikaian dua negara besar itu selesai. Inggris akhirnya sepakat menyerahkan pulau ini kepada Belanda. Sebagai gantinya, Belanda menyerahkan Pulau Manhattan, New York, Amerika Serikat, kepada Inggris.

Kisah bersejarah itu tercatat di sebuah prasasti di salah satu sudut Kota Manhattan. Perupa Hati Baron Basuning terusik saat membaca prasasti itu di sela-sela keikutsertaannya dalam pameran lukisan bersama sejumlah perupa dari berbagai negara di Galeri Agora, New York, Maret lalu. Perjalanan waktu ternyata telah membawa kedua pulau itu pada nasib yang berbeda. “Manhattan kini telah menjelma menjadi kota kosmopolitan, pusat dari perekonomian dunia. Sedangkan Run makin merana,” katanya.

Keterusikan Baron itu melahirkan lukisan-lukisan yang dipajang dalam pameran tunggalnya, “Land of Legacy”, di Galeri Cipta III Taman Ismail Marzuki , Jakarta, selama 4-14 Mei 2013. Baron kini memang lebih banyak mengekspresikan kegundahan hatinya terhadap kondisi negerinya-tanah warisan yang kaya tapi terabaikan-melalui lukisan. Tak kurang dari 17 lukisan dipamerkan di sana. Lukisan dengan cat akrilik dan duko itu dibuat di atas kanvas berukuran besar, tak kurang dari 2 x 2 meter persegi. Sebagian besar dia beri judul serial, dari Legacy #1 hingga Legacy #14.

Salah satu lukisannya bertutur tentang dua pulau itu. Perupa kelahiran Pagar Alam, Sumatera Selatan, 16 September 1961, itu memberi judul A Tale of Two Island. Menggunakan cat duko, dia memoles kanvas warna putih dengan sapuan-sapuan vertikal dan horisontal, menyisakan sedikit bayangan goresan cat hitam yang ditimpanya. Pulau Run dan Manhattan direpresentasikan dalam bentuk dua noktah berwarna kuning dengan sedikit pulasan warna hitam.

Menurut Baron, lukisan-lukisannya adalah sebuah imajinasi dan pemaknaan terhadap suatu gugusan kepulauan yang disebut Nusantara. Negeri yang indah dengan lautan pasir putih tersebar di sepanjang garis pantainya dan menimbun harta karun tak terhingga, seperti emas, tembaga, minyak bumi, dan gas alam. Namun seniman yang sempat berkarier di bidang perhotelan itu tak sekadar mengumbar keindahan tersebut. Lewat lukisan-lukisannya itu, ia juga melemparkan kritiknya. “Keindahan Indonesia yang bak cerita dongeng dari antah-berantah itu kini hanyalah negeri yang merana dan nyaris tersia-sia. Alam, hutan, serta lautan telah ternoda dan tersandera oleh kekuatan yang mengatasnamakan modernisme-globalisasi,” katanya.

Namun, sebagai pelukis yang setia menggeluti lukisan bercorak abstrak, obyek-obyek yang ditampilkan di atas kanvas berbeda dari wujud benda-benda di dunia nyata. Ia lebih banyak mengeksplorasi warna untuk menyampaikan pesannya ketimbang aneka rupa figur atau benda. Lukisan-lukisannya lebih menawarkan kebebasan berimajinasi kepada setiap orang yang melihatnya.

Baron mengaku, sejak memantapkan diri sebagai pelukis pada 1998, ia memang lebih memilih lukisan abstrak. “Lebih bebas saja,” kata perupa yang belajar melukis secara otodidaktik itu. Pengalaman 8 tahun menetap di New York, Amerika Serikat, dan pergaulannya dengan seniman-seniman lokal di sejumlah galeri seni di kota itu semakin memantapkan langkahnya untuk menggeluti lukisan abstrak. Lewat corak abstrak ia juga lebih bebas menuangkan berbagai pikiran, serta pengalaman batin dan visualnya. “Bahkan, kalau sedang mood, satu lukisan bisa selesai dalam 1 jam,” kata mantan jurnalis itu.

Dengan menggunakan rol-bukan kuas-ia memadukan warna-warna pastel dan putih. Terkadang ia juga menempatkan warna-warna gelap atau transparan. Dalam lukisan berjudul Land of Legacy misalnya, Baron memoles bagian tengah kanvas dengan cat akrilik kuning kecokelatan. Hanya sejengkal sisi atas dan bawah kanvas yang dibiarkan putih. Lukisan itu seperti bentangan satu bagian pulau yang dipandang dari atas langit. Tulisan berbunyi “Land of Legacy” dengan huruf kapital berwarna merah tercetak di bawah pulau kuning itu.

Menempatkan obyek di tengah kanvas menjadi ciri khasnya. Namun, dalam pameran kali ini, Baron mencoba menawarkan kebaruan dengan banyak menempatkan obyek di pinggir, sehingga terlihat lebih minimalis. “Untuk menghindari pengulangan yang sudah ada, itu pun masih dalam taraf mencoba,” kata Baron, yang Oktober mendatang akan kembali menggelar pameran di New York.

Upaya menghadirkan kebaruan itu diakui kurator pameran ini, Chandra Johan. Ia melihat ada sedikit perubahan pada lukisan-lukisan Baron sekarang. Sapuan rol dengan warna hitam masif, dengan konstruksi sapuan vertikal dan horisontal yang menyisakan ruang dan cahaya, yang jadi ciri lukisan Baron, juga kian berkurang. Baron juga banyak membangun isi lukisan dari elemen-elemen visual dan pertandaan minimal, tapi lebih sensitif. “Ia mulai memanfaatkan tafsir pada bidang-bidang kosong atau menggantikan dominasi warna gelap dengan kekuatan warna putih dan warna-warna pastel yang lembut,” katanya.

Namun Chandra juga menilai Baron masih terbebani oleh konsep dan pikirannya tentang Indonesia yang terpuruk setelah mengalami eksploitasi habis-habisan. “Ini menjadi beban moral untuk disampaikan,” katanya. Padahal, menurut Chandra, sesungguhnya ketidakbermoralan karya seni, apalagi lukisan abstrak, bukan karena ia melenceng dari temanya, melainkan karena melenceng dari kebebasannya sendiri. NUNUY NURHAYATI

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s