Membeku di Bahu

Scott Sinclair harus mengubur mimpinya. Ia tidak jadi tampil melawan mantan klubnya, Swansea, setelah cedera saat latihan pada Jumat pekan lalu. Cederanya cukup gawat, sampai harus dioperasi di Rumah Sakit Alexandra, Manchester, Inggris. Bukan, dia tak terkena sesuatu yang kerap mencederai pemain bola, seperti tertariknya otot paha (hamstring) atau engkel terkilir karena dijegal. Gelandang Manchester City ini didiagnosis mengidap blood clot atau penggumpalan darah. Sinclair mengalaminya di bahu.

Apa yang menimpa Sinclair langka, karena penggumpalan darah jarang dialami pemuda aktif dan berprofesi atlet. Hal itu diakui Michael Triangto, dokter spesialis olahraga Rumah Sakit Mitra Kemayoran, Jakarta. Dalam setahun, ia menangani lima pasien penyakit itu, yang rata-rata berusia di atas 50 tahun.

Penggumpalan darah, menurut Michael, terbentuk ketika ada kerusakan di pembuluh darah vena. Penyakitnya disebut DVT (deep vein thrombosis). Penggumpalan di vena itu membuat darah mandek, tak mau kembali ke jantung. Karena itu, jika mengalami DVT, orang akan seperti lumpuh karena otot tidak berkontraksi untuk mendorong darah balik lagi ke jantung.

Hal lain yang membuat kasus Sinclair ini berbeda, biasanya DVT menyerang orang yang tidak banyak bergerak, misalnya duduk dengan kaki ditekuk dalam posisi sempit untuk jangka waktu lama. Hal itu, menurut Michael, akan membuat darah kembali dari kaki ke jantung terganggu. Karena aktivitas stagnan itu, darah menjadi lengket dengan dinding pembuluh darah, sehingga mudah menggumpal.

Michael mengatakan, belum ada penelitian apakah atlet berada pada risiko lebih tinggi untuk penyakit ini. Tapi kerasnya kompetisi Liga Inggris, dikatakan dia, bisa jadi penyebab kerusakan pada vena Sinclair. Sebab, kompetisi itu memaksa beberapa atlet melakukan sesuatu yang melampaui kemampuan. Hal itu yang membuat otot tubuh menekan dan memeras vena hingga rusak. “Ini kompetisi, jelas beda dengan olahraga untuk kesehatan,” kata Michael.

Senada dengannya, Sally Aman Nasution mengatakan, olahraga berat memang membutuhkan aliran darah cepat sehingga membuat kerja jantung lebih keras. Saat terjadi penggumpalan, darah mengalir lambat. Padahal dibutuhkan aliran darah cepat. “Hal ini yang dapat memicu kematian mendadak,” kata spesialis penyakit dalam Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) itu, Selasa lalu. Selain sepak bola, Michael mengatakan, olahraga lain yang berisiko DVT adalah tinju, bulu tangkis, karate, dan angkat besi. Berisiko di sini dalam arti atlet melakukan latihan tidak sesuai dengan kemampuannya.

Dari pengalaman pasiennya, Michael mengatakan, penggumpalan darah biasanya terjadi di tungkai bawah–lutut sampai engkel. Tetapi tetap berpotensi terjadi juga di semua bagian pembuluh darah, termasuk bahu. Gejalanya sebenarnya mudah dikenali. Kalau penggumpalan terjadi di lutut, jari kaki akan menjadi dingin. Kalau di bahu, seperti Sinclair, jari-jari tangannya yang dingin.

Lebih spesifik, kata Michael, penderita biasanya mengalami pembengkakan dan muncul kemerahan di kulit, juga rasa pegal. Di Indonesia, gejala penggumpalan darah itu dianggap enteng, karena sering dianggap kemeng atau masuk angin saja. Padahal gejala yang dijelaskan tadi, kata Michael, tidak bisa dianggap enteng. “Risiko fatal pembekuan darah adalah kematian,” ujar Sally, menambah keterangan Michael.

Untuk mengetahui kadar penggumpalan darah, seseorang bisa melakukan tes agregasi trombosit di rumah sakit. Jika agregasi trombositnya hiper, kata Michael, berarti darah orang itu akan cepat menggumpal. Artinya, dia berisiko mengalami penyumbatan saluran darah, stroke, dan bawaan penyakit lainnya.

Tidak ada pedoman resmi tentang kapan dan seberapa cepat seseorang bisa kembali beraktivitas setelah mengalami DVT. Tapi, Michael menyarankan, sebaiknya pasien menahan diri dari setiap kegiatan 10-14 hari pertama setelah DVT.

Untuk mengatasinya, biasanya pasien mengkonsumsi obat antikoagulan–dikenal sebagai obat pengencer darah. “Kalau sumbatan berada di pembuluh darah yang sempit, harus dilakukan intervensi (operasi),” kata Sally.HERU TRIYONO

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

One Response to Membeku di Bahu

  1. Pingback: Suara di Balik Layar | Sprei Murah dan Berkualitas | Grosir Sprei Murah | Free Ongkir

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s