Kemarahan para Perupa

Lukisan seorang remaja terpejam dengan tangan hampa teronggok di dekat pintu masuk gedung A Galeri Nasional Jakarta. Lukisan Empty karya Mas Agoeng ini menyapa pengunjung pameran seni rupa Nusantara “Meta Amuk” di sana selama 8-24 Mei 2013. Karya yang dipamerkan kali ini berjumlah 115, yang dipilih dari ratusan seniman dari 25 provinsi. Kurator pameran, Kuss Indarto dan Asikin Hasan, menjelaskan bahwa tema pameran ini secara harfiah berarti melampaui aksi kekerasan amuk.

“Tema ini dirasakan tepat dengan kurun waktu sekarang ini, ketika bangsa Indonesia tengah masuk dalam masa peralihan kekuasaan dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ke pemimpin berikutnya pada 2014,” kata Kuss dalam pengantar kuratorialnya.
Tema ini, kata Kuss, tidak berarti ketat membincangkan perihal politik, tapi ada pendar persoalan sosial-budaya kemasyarakatan. “Harapannya, seniman bisa menafsirkannya lewat karya mereka, baik untuk mengkritik, memprotes, atau melawan, seperti tradisi di Nusantara,” ujarnya.

Karya-karya para seniman itu boleh dikatakan sebagai perwujudan kekritisan, perlawanan, protes, atau sekadar sindiran dari mereka yang terinspirasi oleh berbagai peristiwa yang mengoyak keadilan dan kebenaran serta menjadi tragedi dan ironi negeri ini.

Lihat saja patung tentara yang menyandang senapan, duduk bersila dengan satu tangan, diangkat seperti Buddha dalam posisi lotus. Inner Peace karya Hanh ini menunjukkan kekontrasan antara lambang perang pada sosok tentara dan lambang perdamaian pada Buddha. Atau papan dalam konstruksi teknik bubut dan tempel dalam wujud tank dengan dua gading lurus. Karya Gandar Setiawan yang mirip tank gajah bersenapan gading itu berjudul Badut Perang-Gajah Airawa.

Patung seperti koboi dari pelat galvanis berjudul Dar, Der, Dor karya I Nyoman Agus Wijaya seakan menyindir gejala bebasnya peredaran senjata. Lihat pula lukisan tumpukan pohon sawit karya Ari Susiwa Manangisi yang mengingatkan kasus kekerasan di Mesuji, Lampung.

Para seniman juga mengangkat masalah-masalah aktual, misalnya soal kegandrungan pada makanan instan dan gadget yang merambah hingga ke pelosok dan masyarakat tradisional. Ada pula gambaran para sarjana yang terlempar dari dunia kerja dalam karya Sarjana Anggur karya Yaksa Agus. Lukisan gadis yang tampak sedih bergumul lumpur tampak dalam karya Ugy Sugiarto, Beauty Ailing. Orang bisa menafsirkannya sebagai kesedihan korban lumpur Lapindo atau perempuan yang rela berlumpur-lumpur untuk kecantikannya.

Nasionalisme dan pemilihan umum juga tak luput dari “hantaman” para seniman. Dari soal halalnya golput, lalu pesan Bung Karno dalam seni mural, atau para pahlawan yang dijadikan simbol pemilihan umum lengkap dengan nomor dan profilnya.

Dengan judul unik, Bukan Penggonggong Kiblat Konstitusi, Andres Busrianto memajang beberapa pahlawan lengkap dengan statusnya, seperti Hamka, ulama kritis novelis; Sjahrir, pejuang kemanusiaan demokratis; Jenderal Urip Sumohardjo, multidimensi haus ilmu; Chairil Anwar, penyair terkemuka, kritis, jujur; Mohammad Hatta, proklamator bijaksana, tajam pemikirannya. Ada pula Haji Agus Salim, the grand oldman-kritik pedas; Rasuna Said, kemauan maju pejuang feminis berpengalaman; dan Imam Bonjol, ulama pejuang revolusi. Di bawah foto para pahlawan ada gambar anjing dengan mikrofon yang menegaskan soal “gonggongan konstitusi” itu.

Karya-karya di gedung B dan C juga tak kalah pedas dan menohok. Para seniman mengkritik situasi di depan mata tentang kerusakan lingkungan, korupsi, dan pelanggaran hak asasi manusia, seperti kasus Munir dan Marsinah yang hampir hilang ditelan waktu. Ada pula penggambaran batang-batang pohon yang terjerat tali perambah hutan serta truk mengangkut sebongkah berlian dan menggusur rumah adat.

Tampaknya beberapa seniman juga terinspirasi oleh seniman-seniman kondang Cina yang mencapkan garpu di kayu, seperti karya Erwin Trihendarto, Pahlawanku Dimanaa??. Dia mencapkan sendok dan tutup botol di papan yang bergambar peta Indonesia. Ada pula karya tiga dimensi di satu karya dengan bilah kayu, yang bila dilihat dari empat arah berbeda akan menghasilkan gambar berbeda, seperti karya perupa dari Korea Selatan yang sempat dipamerkan di Kemang tahun lalu.DIAN YULIASTUTI

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s