Suara di Balik Layar

image2.tempointeraktif.com33Belasan tahun lalu, Margaretha kecil hanyut menyaksikan Sinichi Kudo membongkar kasus pelik di depan televisi yang memutar animasi kegemarannya: Detective Conan. Namun bukan jalan ceritanya yang menjadi fokus perhatian dia, melainkan pengisi suara tokoh jagoannya itu. “Saya penasaran, pengisi suara itu kayak apa, ya, orangnya, mukanya seperti apa,” kata Retha-panggilan akrabnya-saat ditemui Tempo di Mal Arion, Rawamangun, Jakarta Timur, Kamis pekan lalu.

Dan sekitar setahun lalu, rasa penasaran Retha mulai terjawab. Saat itu, dia diajak seorang penyulih suara (dubber) anime di televisi kabel ke studio sulih suara. Di sanalah dia akhirnya bersua dengan pengisi suara Sinichi. “Ternyata orangnya jauh berbeda dengan yang saya bayangkan. Orangnya ganteng dan baik. Namanya Iphie Lubis,” kata perempuan 22 tahun itu.
Tak hanya rasa penasarannya yang terjawab. Sejak itu pula Retha mulai jatuh cinta kepada dunia sulih suara. Atas ajakan temannya, dia bergabung dengan komunitas Dubbing and Friends, sebuah komunitas bagi mereka yang sangat menggemari dunia sulih suara.” Awalnya sih, cuman main-main, tapi jadi keterusan,” kata pekerja swasta itu.

Sejak bergabung dengan komunitas itu, Retha mulai mengetahui para dubber yang mengisi suara tokoh dalam sejumlah film animasi di televisi. Misalnya, penyulih suara tokoh Patrick dalam serial Spongebob Squarepants, yang dia pikir kurus dan bodoh, ternyata agak gemuk dan sangat lucu. Ada pula tokoh pria dalam film televisi dengan penyulih suara seorang perempuan. Pengisi suara karakter anak-anak dalam anime pun kebanyakan orang dewasa.

Dari sana, Retha kemudian coba-coba berperan sebagai dubber. Ya, sebatas penyulih suara amatir. Dia terus berlatih untuk mengasah kemampuannya. “Karena di sini, satu orang diharuskan bisa menghasilkan suara yang berbeda-beda,” ujarnya

Saat ini, Retha baru menguasai suara anak-anak, nenek-nenek, dan orang dewasa. Perbedaan utama karakter berdasarkan usia tersebut adalah cara pelafalan dan penekanan suara. Kalau anak-anak, volume suara harus dikecilkan. Untuk nenek-nenek, ada jeda dalam pelafalan dan tarikan napas yang lebih berat.

Retha sangat ingin bisa mengisi suara karakter pria, seperti pengisi suara Naruto, yang ternyata seorang perempuan bernama Hana Bahagiana. “Itu susah kalau sudah beda jenis kelamin,” kata perempuan yang kini menjadi administrator akun Twitter @dnf_indo, akun komunitas Dubbing and Friends, itu.

Kesulitan sebagai seorang penyulih suara diakui oleh salah satu pendiri Komunitas Dubbing and Friends, Bindra Agysta Linggar. “Dubbing itu keliatannya mudah, tapi pas dicoba setengah mati,” ujar Rinka, sapaan akrab pemuda 23 tahun itu.

Sebab, Rinka menambahkan, seorang dubber harus pandai memecah konsentrasi dalam satu waktu: membaca naskah sembari melihat video sekaligus memadukan mulut dengan ekspresi. “Apalagi kalau dapat kalimat yang panjang dan cepat bicaranya, bisa bikin ngos-ngosan.”

Rinka kemudian memilih mengolah kemampuannya lewat proyek-proyek komunitas. Misalnya, dia membuat Fan Dub, proyek sulih suara sebuah anime yang diisi oleh para dubber amatir, anggota komunitas Dubber n Friends yang bukan berprofesi sebagai penyulih suara profesional. Proyek yang mereka garap adalah anime golongan darah yang berjudul asli Ketsuekigata-kun.

Rinka juga rajin membuat proyek kecil-kecilan, seperti sandiwara radio atau membantu mahasiswa broadcasting dalam tugas sulih suara. Tawaran-tawaran yang masuk disebarluaskan ke komunitas untuk melatih kemampuan para anggota. “Kami juga buat soundcloud, aplikasi dunia maya yang memungkinkan proses berbagi rekaman suara,” katanya.

Ya, dunia sulih suara memang tak hanya mengganti suara tokoh-tokoh dalam anime, telenovela, atau drama Korea, tapi juga ada voiceover-pengisi suara berita, iklan, acara televisi, dan pengarah dialog. Salah satu yang terlibat dalam voiceover adalah Anita Saputri. Perempuan 18 tahun itu ingin menyalurkan hobi dan suaranya agar bisa didengar orang banyak.

Boleh dibilang penyulih suara amatir belum bisa dijadikan sebagai pilihan profesi. Tapi, menurut Retha, kehadiran mereka setidaknya bisa membuat senang para penyulih suara profesional. “Kehadiran mereka menjadi petunjuk dan acuan bahwa dunia pengisi suara di balik layar diminati kalangan muda,” kata dia. DIANING SARI

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s