Nenek 76 Tahun Mendaftar ke Mars

Tereshkova mengatakan, Mars adalah planet favoritnya dan dia menyimpan impian untuk pergi ke sana. “Kami tahu batas manusia. Dan bagi kami, ini tetap sebuah mimpi. Kemungkinan besar penerbangan pertama tak akan kembali. Tapi saya siap,” ujar kosmonaut Rusia itu.

Tereshkova, yang menjadi pahlawan nasional pada usia 26 ketika melakukan penerbangan antariksa solo, mengatakan dirinya telah mempelajari kemungkinan untuk pergi ke Planet Merah.

Mantan pekerja tekstil itu menyelesaikan misi antariksa pada 1963 dengan pesawat ruang angkasa Vostok VI. Tereshkova adalah penerjun amatir ketika ia direkrut ikut program kosmonaut di Moskow. Dia dilatih bersama tiga perempuan lain sebagai bagian dari proyek Kruschev untuk menjadi wanita pertama di luar angkasa yang berasal dari Uni Soviet. Tapi dia satu-satunya perempuan yang menyelesaikan misi itu, sehingga diberi gelar Pahlawan Uni Soviet.

Selama misi tiga harinya, ia mengelilingi bumi 48 kali dan mencetak rekor baru untuk waktu di ruang angkasa dengan menyelesaikan orbit dalam waktu singkat. Penerbangannya adalah propaganda besar untuk Uni Soviet. Dia mendapat Medali Emas Perdamaian PBB dalam perannya sebagai juru bicara Uni Soviet. Pada 16 Juni, Rusia akan merayakan peringatan 50 tahun penerbangan bersejarah Tereshkova itu.

Namun rencana Tereshkova kali ini jauh lebih berbahaya. Perjalanannya ke Mars akan dibombardir dengan radiasi kosmik yang diprediksi setara dengan radiasi CT scan seluruh tubuh sekali seminggu selama setahun.

Dosis itu cukup untuk meningkatkan risiko kanker sekitar 3 persen, tapi para ahli mengingatkan bahwa ada banyak ketidakpastian tentang efek lingkungan ruang angkasa pada tubuh.

Badan antariksa Amerika Serikat, NASA, bermaksud mengirim awak untuk mengorbit Planet Merah itu pada pertengahan 2030. Perusahaan swasta Amerika Inspiration Mars, yang didukung miliarder Dennis Tito, turis antariksa pertama yang berkunjung ke stasiun antariksa internasional (ISS), juga tengah mencari relawan untuk penerbangan ke Mars pada Januari 2018. DAILYMAIL | ERWIN Z

Sebelum Mati, Otzi Si Manusia Es Menderita Cedera Otak

BOLZANO – Setelah mengurai kode genetik Otzi, tim riset dari European Academy of Bolzano/Bozen (EURAC), Saarland University, Kiel University, dan ilmuwan lain berhasil menemukan terobosan baru dalam penelitian Otzi, manusia dari 3300 SM yang ditemukan mati membeku di gletser Schnalstal di Pegunungan Alpen, Italia. Dari sampel jaringan otak sebesar kepala jarum pentul mumi itu, tim peneliti dapat mengekstraksi dan menganalisis proteinnya untuk mendukung teori bahwa Otzi menderita semacam kerusakan otak pada akhir usianya.

Dua area berwarna gelap di bagian belakang cerebrum Otzi sebenarnya telah ditemukan pada 2007, ketika para ilmuwan mendiskusikan retak pada tulang tengkoraknya. Berdasarkan CAT scan otak Otzi, peneliti menduga dahinya kena pukul ketika Otzi diserang musuh. Pukulan itu menyebabkan otak menghantam bagian belakang kepala, menciptakan memar berwarna gelap itu. Hingga kini, hipotesis itu belum dieksplorasi.

Pada 2010, dengan bantuan endoskopi yang dikendalikan oleh komputer, peneliti mengambil dua sampel jaringan otak Otzi. Prosedur itu dilakukan melalui dua lubang kecil yang sebelumnya telah ada untuk menghindari kerusakan pada mumi tersebut.

Ahli mikrobiologi Frank Maixner dari EURAC, Institute for Mummies and the Iceman; dan koleganya, Andreas Tholey, peneliti dari Institute for Experimental Medicine di Kiel University, melakukan studi paralel untuk mempelajari sel otak itu, terutama campuran protein kompleks proteomes. Riset itu mengungkap beragam protein otak, bahkan protein dari sel darah.

Investigasi mikroskopis mengkonfirmasi penemuan struktur sel neural yang terawetkan dengan baik dan sel darah yang menggumpal. Temuan ini membuat peneliti berani menyimpulkan bahwa sampel itu berasal dari jaringan otak yang kondisinya masih bagus. Namun gumpalan darah itu mengindikasikan bahwa otak Otzi mengalami memar beberapa saat sebelum dia mati. “Belum diketahui apakah cedera itu terjadi akibat pukulan pada dahi atau benturan ketika jatuh setelah Otzi terkena panah,” kata tim ilmuwan.

Temuan ini merupakan terobosan besar bagi ilmuwan. “Analisis protein dari jaringan yang mengalami mumifikasi adalah kontribusi yang sangat berharga bagi riset DNA,” kata Maixner. “Investigasi jaringan yang mengalami mumifikasi bisa amat membuat frustrasi. Sampel sering rusak atau terkontaminasi.” SCIENCEDAILY

This entry was posted in News. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s