Layar Indonesia di Sudut London

Ketika film berakhir, penonton bahkan tidak beranjak dari tempat duduknya. Dengan antusias, mereka mengikuti sesi tanya-jawab dengan sang sutradara, Ifa Isfansyah. “Saat saya menyaksikan film itu, secara emosional sangat mencekam,” ujar mantan Duta Besar Inggris untuk Indonesia, Charles Humphrey, yang ikut menonton bersama Duta Besar Indonesia untuk Inggris Hamzah Thayeb dan sejumlah undangan pada Selasa malam, 11 Juni 2013.

Penonton di London terbilang beruntung karena mereka dapat menyaksikan secara utuh film yang dibintangi Prisia Nasution dan Oka Antara itu. “Di Indonesia hanya boleh diputar versi film yang sudah disensor. Karena disensornya tidak dengan rasa seni, akhirnya mengganggu jalan cerita,” ujar Ifa dalam diskusi yang dipandu dosen senior untuk Program Studi Indonesia dan Melayu di School of Oriental and Asian Studies (SOAS), Benjamin Murtagh.

Sang Penari terpilih sebagai film Indonesia perdana yang diputar dalam Terracotta Far East Film Festival yang berlangsung di pusat Kota London, sepanjang 6-15 Juni 2013. Terracotta merupakan festival film yang khusus memutar film-film karya sineas dari negara-negara Asia. Festival tahunan yang digelar di Prince Charles Cinema dan ICA ini memberi kesempatan kepada warga London untuk mengenal film-film terbaru dari Asia dari beragam jenis.

Selain menyuguhkan film-film terbaru lewat program Current Asian Cinema, bagi pencinta film horor Asia bisa mengikuti program khusus Terror Cotta Horror All-Nighter dan program khusus In Memory of Leslie Cheung & Anita Mui. Di tahun kelima penyelenggaraannya, festival ini memberikan kesempatan kepada sineas Indonesia untuk memutar film mereka pada satu sesi khusus Spotlight on Indonesia.

“Melalui festival ini, kami ingin menunjukkan bahwa di Asia film-film bagus juga dihasilkan oleh para sutradara-sutradara Indonesia,” kata Direktur Festival Joey Leung kepada Tempo, Selasa lalu. Menurut dia, selama ini, publik Inggris lebih mengenal film-film Hong Kong, Cina, dan Jepang. “Padahal, sebelum dunia internasional mengenal film The Raid, kami sudah mengenal film-film Indonesia berkualitas, terutama yang dibuat oleh Garin Nugroho, dan sudah berencana memperkenalkannya kepada publik Inggris,” katanya.

Selain Sang Penari, film Postcards from the Zoo karya Edwin, Lovely Man karya Teddy Soeriaatmadja, What They Don’t Talk About When They Talk About Love karya Mouly Surya serta dua film garapan Garin Nugroho, Mata Tertutup dan Opera Jawa, juga diputar dalam program khusus film Indonesia ini. Seperti Sang Penari, kelima film tersebut juga diputar di bioskop ICA, lengkap dengan teks dalam bahasa Inggris.

Selain film-film itu, film Belenggu yang disutradarai Upi Avianto ikut meramaikan festival. Film horor yang dibintangi Abimana Aryasatya, Laudya Cynthia Bella, dan Imelda Therinne itu diputar dalam program Terror Cotta Horror All-Nighter di bioskop Prince Charles Cinema, yang berlokasi di salah satu pusat hiburan terkemuka London, Leicester Square.

Duta Besar Indonesia untuk Inggris Hamzah Thayeb berharap keterlibatan film-film Indonesia di festival tahunan ini mampu mengembalikan kejayaan film Indonesia di arena internasional. Kedutaan Besar Republik Indonesia di London bahkan mengadakan resepsi di ruang Crutacala, Gedung KBRI, sebelum pemutaran film Sang Penari.VISHNU JUWONO (LONDON)

This entry was posted in News. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s