Juara dari Lembah Retakan Besar

Urutan kedua dan ketiga, baik putra maupun putri, sama-sama direbut pelari asal Kenya. Di bagian putra, urutan kedua direbut Boniface Mbuvi Muema, sedangkan di bagian putri direngkuh Elizabeth Jeruiyot Chemweno. Lalu posisi ketiga putra direbut Denis Mwanza Musau dan juara ketiga putri adalah Rose Kerubo Nyangacha.

Tak hanya di Bali, pelari asal Kenya juga cukup mendominasi olahraga lari jarak jauh dalam tiga dekade terakhir. Dalam peringkat dunia untuk lari maraton, Kenya terus berada di peringkat ke-8 dari 10 tempat teratas untuk pria dan peringkat ke-6 dari sepuluh tempat teratas untuk kategori perempuan. Ethiopia, tetangga Kenya, juga banyak melahirkan pelari jarak jauh.

Mengapa Kenya, juga Ethiopia, banyak melahirkan juara lari jarak jauh dan maraton? Sejumlah studi menyebut beberapa faktor penyebabnya. Dari latihan fisik yang keras, kultur masyarakat, gen, hingga keterlibatan anak-anak secara luas. Satu faktor lagi yang tak kalah penting adalah geografi Kenya yang berada di wilayah Lembah Retakan Besar (Great Rift Valley) Afrika Timur.

Sejak 50 juta tahun lalu hingga saat ini, bagian timur Afrika sedang memisahkan diri dari sisa Afrika lainnya. Lembah Retakan Besar Afrika Timur ini adalah sebuah gejala fragmentasi benua melalui peretakan benua (continental rifting) yang kelak akan memusnahkan benua melalui pembentukan samudera. Tidak hanya di Afrika Timur, retakan benua ini juga menerus ke Asia Barat, sehingga kita sebut saja Lembah Retakan Besar Afrika Timur-Asia Barat.

Sisi lembah biasanya curam dan bisa sampai ketinggian 2.000-5.000 meter. Elevasi ini membuat penipisan udara, sehingga menyulitkan manusia untuk bernapas, khususnya kala berjalan atau berlari. Faktor ketinggian dan geografi Kenya di lintang khatulistiwa menciptakan iklim yang ideal untuk kegiatan di luar ruangan, termasuk aerobik. Kelembapan rendah, hangat pada siang hari dan dingin pada malam hari.

Para pelari Kenya memanfaatkan kondisi alam ini untuk berlatih lari jarak jauh. Menurut Tim Layden, dalam tulisannya di Sportsillustrated.cnn.com, dalam satu jam mereka biasa berlari lebih dari 15 mil di atas tanah liat merah. Mereka menghindari kawanan kecil sapi dan keledai. “Rute mendaki lebih dari 3.000 kaki, lalu naik ke ketinggian lebih dari 6.500 kaki, hingga 10 ribu kaki pada puncaknya. Kondisi di mana oksigen minim di muka bumi.”

Di wilayah ketinggian ini, ada tiga kamp pemusatan latihan lari, yaitu Iten, Ngong, dan Nyahururu. Dua kamp lainnya yakni Embu dan Nanyuki di daratan lebih rendah. Iten yang berada di ketinggian 2.600 meter di atas permukaan laut menjadi tempat latihan pelari dunia lainnya, selain dari Kenya.

Tim pelari Kenya latihan bersama-sama. Masing-masing memberi dorongan kepada rekannya untuk berlari lebih cepat dan cepat lagi. Hal itu jauh berbeda dengan di Amerika Serikat, misalnya, di mana pelari jarak jauh berlatih secara individual. “Atlet dari negara lain takut berlatih keras. Mereka menjalankan saja, jauh dari orang lain. Mereka adalah pengecut,” kata Musa Tanui, pelari maraton Kenya tercepat ketiga dalam sejarah dunia.

Kini, Musa mengelola satu kamp untuk membina generasi muda Kenya. Di kamp ini, saat fajar, para atlet berlari ke dalam hutan pinus. Setelah 12 kilometer, jalanan mulai menanjak, terus hingga ketinggian di Great Rift Valley ini. Kamp latihan ini sebagian didanai pelari Kenya yang berhasil dan perusahaan sepatu dan pakaian olah raga yang menjadi sponsor.

Kamp-kamp semacam ini menjadi “kawah candradimuka” pelari Kenya sebelum mereka berlaga dalam Olimpiade atau kejuaraan dunia lainnya. Mereka melakukan diet dan hidup terisolasi di kamp tersebut selama tiga bulan. Mereka tidur berlantai beton dengan atap dari seng bergelombang. Tak ada listrik dan air yang mengalir.

“Mereka memakan makanan yang dimasak di atas kayu bakar di dapur dan tidur setiap malam di tengah malam yang pekat. Kala subuh, mereka terjaga oleh kokok ayam,” kata Tim Layden. Para pelari yang sudah berhasil dan tinggal di rumah besar dan bermobil mewah harus mengikuti latihan di kamp ini. Ini, kata Layden, menunjukkan disiplin yang luar biasa bagi pelari Kenya.

Kip Keino merupakan pelari Kenya pertama yang meraih medali emas Olimpiade 1968 dan 1972. Dia berlatih keras di Lembah Retakan Besar. Pola ini kemudian diikuti generasi muda pelari lainnya. Setelah sukses, Keino membantu mendirikan panti asuhan dan melatih anak-anak muda. Dia menjadi role model, sehingga Kenya melahirkan juara-juara dunia berikutnya. UWD | BERBAGAI SUMBER

This entry was posted in News. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s