Jamur Santapan Untuk Pajangan

Growbox, nama pajangan jamur tersebut, merupakan hasil kreasi Robbi Zidna Hilman bersama Adi Reza Nugroho, Ronaldiaz Hartantyo alias Aldi, serta Annisa Wibi Ismarlanti, lulusan Teknik Arsitektur ITB dan Manajemen Universitas Padjadjaran.

Mereka menjawab kebutuhan masyarakat urban yang ingin praktis bercocok tanam dan sering terhambat sempitnya lahan. Jamur tiram dipilih karena daya tahan hidupnya dan sudah akrab di lidah orang Indonesia. Jadi, selain bisa disantap ketika tiba waktu panen, bahan jamur tersebut juga terlihat elok sebagai pajangan alami di ruang tamu, kamar, atau tempat kerja.

Bahkan jamur hiasan ini bisa dijadikan kado buat orang-orang terkasih. Dari komentar pembeli di akun Twitter dan Facebook mereka, ada yang menyatakan bahwa jamur tersebut juga ampuh untuk mengambil hati calon mertua.

Di dalam Growbox, jamur tumbuh dari bungkusan baglog. Media tanam untuk jamur itu antara lain serbuk kayu, kapur, dan sekam. Rata-rata jamur Growbox mulai tumbuh pada hari ke-13. Dua hari kemudian, jamur tiram sudah bisa dipanen untuk disantap.

“Begitu seterusnya selama empat bulan,” kata Annisa. Sehingga pemelihara bisa panen tiga hingga tujuh kali. Cukup ditempatkan di ruangan teduh tanpa terkena matahari langsung, jamur pun hanya perlu disemprot sedikit air supaya kondisinya tetap lembap. “Pada panen pertama bisa dapat 150-200 gram jamur per kotak, selanjutnya makin berkurang karena kandungan nutrisinya menyusut,” ujarnya.

Growbox pertama kali mereka perkenalkan dalam acara piknik urban di Singapura pada akhir 2012. Langkah mereka yang sekaligus menjadi uji coba suhu dan untuk mengetahui tanggapan masyarakat itu ternyata membuahkan hasil bagus. Begitu kembali ke Bandung, mereka langsung mendapat pesanan 40 kotak jamur dari Singapura.

Sebuah tulisan khusus dibuat: “I was born in Singapore, but I am totally Indonesian”. “Jamur tiram itu kekayaan dan identitas sumber protein endemik kita,” ujar Robbi.

Selain ke Singapura, jamur Growbox juga dikirim ke sejumlah daerah di Indonesia seperti Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi, Yogyakarta, Surabaya, juga Kalimantan. Bahkan juga ada kiriman Growbox ke Cina.

Nah, kalau berminat, jangan takut soal perawatan. Idealnya, kata Robbi, jamur tiram tumbuh di daerah lembap bersuhu 23-30 derajat Celsius. Namun, untuk daerah panas, kondisinya bisa diakali dengan penyemprotan 3-5 kali sehari dan penempatan jamurnya di dalam ruangan, serta tak terkena sinar matahari langsung. “Begitupun di ruangan ber-AC. Sebab, walau hawanya terasa dingin, kelembapannya kering,” kata Robbi.

Sebaliknya, di dataran tinggi Bandung seperti kawasan Gandok, dekat Jalan Ciumbuleuit, jamur Growbox bisa tumbuh sendiri hingga mekar dalam sepekan tanpa perlu disemprot.

Karena belum ada toko sendiri, sementara ini kalau orang berminat membeli Growbox bisa datang ke Siete Café, Origin House and Kitchen, serta Toko Buku Reading Lights, dan Tobucil di Bandung. Tapi, kalau tak sempat ke Bandung, bisa juga memesan lewat Facebook atau Twitter, dan barang pun dikirim.

Harga per kotak jamur tiram putih Rp 35 ribu. Sedangkan jamur tiram kuning, yang baru dikeluarkan pada Juni ini, dibanderol Rp 80 ribu. Warna lain, seperti abu-abu dan merah muda, juga tengah dikembangkan dan bisa menjadi pilihan baru. “Semuanya bisa dimakan. Tapi, kalau sudah dimasak, warna jamurnya jadi putih,” kata Robbi. ANWAR SISWADI

This entry was posted in News. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s